Friday, November 23, 2012

Sistem Pencatatan Persediaan Barang Dagangan



Perusahaan dagang membeli barang dagangan kemudian dijual kembali tanpa merubah bentuknya. Barang yang dibeli tidak langsung laku terjual seluruhnya sebagian dipajang dan sebagian lagi disimpan di gudang menunggu dipajang di toko. Penyimpanan barang tersebut harus dikelola dengan baik agar biaya penyimpanan tidak terlalu besar sehingga merugikan perusahaan. Agar tujuan tercapai diperlukan suatu sistem pengelolaan persediaan dengan sistem akuntansi persediaan. Sistem akuntansi persediaan yang umum terdiri dari :
1.       Sistem Periodik (Fisik)
Sistem pencatatan persediaan ini menerapkan bahwa persediaan barang yang masuk dicatat dalam perkiraan pembelian, dan untuk mengetahui jumlah persediaan akhir  dilakukan dengan cara menghitung secara langsung jumlah persediaan barang dagangan ke gudang persediaan serta harga pokok persediaan diketahui dengan melakukan perhitungan harga pokok persediaan.
Perhitungan Harga Pokok Persediaan
Persediaan awal (1 Jan 19XX) ............................................. Rp. xx
Pembelian ................................   Rp. xx
Beban Angkut Pembelian.......... Rp. xx
                                                      Rp. xx
Return Pembelian ....... Rp. xx
Potongan Pembelian.... Rp. xx
                                                     Rp. xx
Pembelian bersih ................................................................... Rp. xx
Barang tersedian untuk dijual ..............................................   Rp. xx
Persdiaan Akhir  (31 Des 19XX)  ......................................   Rp. xx
HARGA POKOK PERSEDIAAN .....................................  Rp. xx

2.       Sistem Perpectual (Terus Menerus)
Sistem persediaan ini disebut juga dengan sistem terus menerus atau dengan kata lain pencatatan persediaan dilakukan secara terus menerus, dimana  setiap terjadi pembelian barang dagangan langsung dicatat keperkiraan Persediaan Barang Dagangan (D) dan Kas/Utang (K) sehingga setiap saat jumlah persediaan barang dagangan dapat langsung diketahui.
Tgl
KETERANGAN
REF
DEBET
KREDIT

Persediaan Barang Dagangan

Rp. xx


- Kas/Utang


Rp. xx

Demikian juga halnya dengan transaksi penjualan barang daganan langsung diperhitungkan harga pokok penjualannya, yaitu dengan jurnal :
Tgl
KETERANGAN
REF
DEBET
KREDIT

Kas/Piutang

Rp. xx


- Penjualan


Rp. xx

Tgl
KETERANGAN
REF
DEBET
KREDIT

Harga Pokok Penjualan

Rp. xx


- Persediaan Barang Dagangan


Rp. xx

Harga Pokok Penjualan yang dicatat dalam jurnal pada saat penjualan dan Persediaan akhir barang dagangan dapat diketahui dari Kartu Persediaan. Dalam perhitungan harga pokok penjualan bisa dilakukan dengan menggunakan metode FIFO, LIFO atau AVERAGE.
FIFO (First In First Out)
Metode ini mengasumsikan bahwa barang yang pertama sekali dibeli merupakan barang yang pertama kali dijual.
LIFO  (Last In First Out)
Metode LIFO mengasumsikan bahwa barang yang terakhir dibeli merupakan barang yang pertama sekali dijual
AVERAGE (Rata-Rata)
Metode ini mengasumsikan harga pokok barang yang dijual merupakan rata-rata dari harga beli semua persediaan.

No comments:

Post a Comment